Hukum Multi Level Marketing (MLM) dalam Islam

Bagaimanakah Hukum Multi Level Marketing (MLM) dalam Islam

Ditengah kelesuan dan keterpurukan ekonomi nasional, datanglah sebuah sistem bisnis yang banyak menjanjikan dan keberhasilan serta menawarkan kekayaan dalam waktu singkat.

Sistem ini kemudian dikenal dengan istilah Multi Level Marketing (MLM) atau Networking Marketing. Banyak orang yang bergabung kedalamnya, baik dari kalangan orang-orang awam ataupun dari kalangan penuntut ilmu, bahkan dari berita yang sampai kepada kami ada sebagian pondok pesantren yang mengembangkan sistem ini untuk pengembangan usaha pesantren.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah bisnis dengan model semacam ini diperbolehkan secara syar’i ataukah tidak ? Sebuah permasalahan yang tidak mudah untuk menjawabnya, karena ini adalah masalah aktual yang belum pernah disebutkan secara langsung dalam litelatur para ulama’ kita.

Namun alhadulillah Allah telah menyempurnakan syari’at islam ini untuk bisa menjawab semua permasalahan yang akan terjadi sampai besok hari kiamat dengan berbagai nash dan kaedah- kaedah umum tentang masalah bisnis dan ekonomi.

Oleh karena itu dengan memohon petunjuk pada Allah, semoga tatkala tangan ini menulis dan akal berfikir, semoga Allah mencurahkan cahaya kebenaran-Nya dan menjauhkan dari segala tipu daya syaithan.

Wallahul Muwaffiq

Kaedah Penting Bagi Pelaku Bisnis

Ada dua kaedah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum islam, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim Rahimahullah “Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarangnya”. (Lihat I’lamul Muwaqi’in 1/344).

Dalil ibadah adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam :
“Dari ‘Aisyah radhiallahu anha berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “ Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka akan tertolak “(HR. Muslim)

Adapun dalil masalam mu’amalah adalah firman Allah Ta’ala:
Dia-lah Allah yang telah menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah: 29)
(Lihat Ilmu Suhul Al-Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Al-Qawa’id al-Fiqhiyah oleh Syaikh As-Sa’di hal:58)

Oleh karena itu apaun nama dan model bisnis tersebut pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar sukarela dan tidak mengandung salah satu unsur keharaman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Juga firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu”. (QS. An-Nisaa: 29)

Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis menjadi haram adalah :

Riba
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri” (HR. Ahmad 15/69/230, lihat Shahihul Jami 3375)

Ghoror
(Adanya Spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas).
“Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam melarang jual beli ghoror”. (HR. Muslim 1513)

Penipuan
Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu”. (HR. Muslim 1/99/102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224)

Perjudian atau adu nasib
Firman Allah Ta’ala:
“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, adalah perbuatan syaithan maka jauhilah.” (QS. Al-Maaidah: 90)

Kedhaliman
Sebagaimana firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil…” (QS. An-Nisaa:29)

Yang dijual adalah barang haram
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallhu anhuma berkata :”Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (HR. Abu dawud 3477, Baihaqi 6/12 dengan sanad shahih)
(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul Ma’ad Imam Ibnul Qayyim 5/746, Taudlihul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam 2/233, Ar-Roudloh An-Nadiyah 2/345, Al-Wajiz Syaikh Abdul Adlim al-Badawi hal:332).

Sekilas Tentang MLM

Pengertian MLM
Secara umum Multi Level Marketing adalah suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingakt bawah), orang akan disebut Upline jika mempunyai Downline. Inti dari bisnis MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, baik yang bersifat vertikal atas bawah maupun horizontal kiri kanan ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All About MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara MLM oleh hafidl Abdur Rohman, MA)

Kilas Balik Sejarah MLM
Akar dari MLM tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Amway Corporation dan produknya nutrilite yang berupa makanan suplemen bagi diet agar tetap sehat. Konsep ini dimulai pada tahun 1930 oleh Carl Rehnborg, seorang pengusaha Amerika yang tinggal di Cina pada tahun 1917-1927.

Setelah 7 tahun melakukan eksperimen akhirnya dia berhasil menemukan makanan suplemen tersebut dan memberikan hasil temuannya kepda teman-temannya. Tatkala mereka ingin agar dia menjualnya pada mereka, Rehnborg berkata “Kamu yang menjualnya kepada teman-teman kamu dan saya akan memberikan komisi padamu”.

Inilah praktek awal MLM yang singkat cerita selanjutnya perusahaan Rehnborg ini yang sudah bisa merekrut 15.000 tenaga penjualan dari rumah kerumah dilaramg beroperasi oleh pengadilan pada tahun 1951, karena mereka melebih-lebihkan peran dari makanan tersebut. Yang mana hal ini membuat Rich DeVos dan Jay Van Andel Distributor utama produk nutrilite tersebut yang sudah mengorganisasi lebih dari 2000 distributor mendirikan American Way Association yang akhirnya berganti nama menjadi Amway. (Lihat All About MLM hal:23)

Sistem Kerja MLM
Secara global sistem bisnis MLM dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member (anggota) dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Adapun secara terperinci bisnis MLM dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member, dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.

Sesudah menjadi member maka tugas berikutnya adalah mencari member-member baru dengan cara seperti diatas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi folmulir keanggotaan.
Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti diatas yakni membeli produk perusahaan dan mengisi folmulir keanggotaan.

Jika member mampu menjaring member-member yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang didapatkan karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus mennjadi konsumen paket produk perusahaan.

Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paker produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama, kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan, karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru tersebut.

Diantara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal diperusahaan tersebut, dengan janji akan memberikan keuntungan sebesar hampir 100% dalam setiap bulannya. (Lihat Fiqh Indonesia Himpunan Fatwa MUI DKI Jakarta hal: 285-287)

Ada beberapa perusahaan MLM lainnya yang mana seseorang bisa menjadi membernya tidak harus dengan menjual produk perusahaan, namun cukup dengan mendaftarkan diri dengan membayar uang pendaftaran, selanjutnya dia bertugas mencari anggota lainnya dengan cara yang sama, semakin banyak anggota maka akan semakin banyak bonus yang diperoleh dari perusahaan tersebut.

Kesimpulannya, memang ada sedikit perbedaan pada sistem setiap perusahaan MLM, namun semuanya berinti pada mencari anggota lainnya, semakin banyak anggotanya semakin banyak bonus yang diperolehnya.

Hukum Syar’i Bisnis MLM

Beragamnya bentuk bisnis MLM membuat sulit untuk menghukumi secara umum, namun ada beberapa sistem MLM yang jelas keharamannya, yaitu menggunakan sistem sebagai berikut :

Menjual barang-barang yang diperjualbelikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan teah menambahkan harga yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagi sharing modal dalam akad syirkah mengingat pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapat keuntungan estafet. Dengan demikian praktek perdagangan MLM mengandung unsur kesamaran atau penipuan karena terjadi kekaburan antara akad jual beli, syirkah dan mudlarabah, karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai pekerja yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli atau member baru. (Lihat Fiqh Indonesia hal: 288)

Calon anggota mendaftar keperusahaan MLM dengan membayar uang tertentu, dengan ketentuan dia harus membeli produk perusahaan baik untuk dijual lagi atau tidak dengan ketentuan yang telah ditetapkan untuk bisa mendapatkan point atau bonus. Dan apabila tidak bis a mencapai target tersebut maka keanggotaannya akan dicabut dan uangnya pun hangus. Ini diharamkan karena unsur ghoror (spekulasi) nya sangat jelas dan ada unsur kedhaliman terhadap anggota.
Calon anggota mendaftar dengan membayar uang tertentu, tapi tidak ada keharusan untuk membeli atau menjual produk perusahaan, dia hanya berkewajiban mencari anggota baru dengan cara seperti diatas, yakni membayar uang pendaftaran. Semakin banyak anggota maka akan semakin banyak bonusnya. Ini adalah bentuk riba karena menaruh uang diperusahaan tersebut kemudian mendapatkan hasil yan lebih banyak.

Mirip dengan yang sebelumnya yaitu perusahaan MLM yang melakukan kegiatan menjaring dana dari masyarakat untuk menanamkan modal disitu dengan janji akan diberikan bunga dan bonus dari modalnya. Ini adalah haram karena ada unsur riba.

Perusahaan MLM yang melakukan manipulasi dalam memperdagangkan produknya, atau memaksa pembeli untuk mengkonsumsi produknya atau yang dijual adalah barang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun ini tidak cuma ada pada sebagian MLM tapi bisa juga pada bisnis model lainnya.

Kalau ada yang bertanya “Okelah , kita sepakat bahwa MLM dengan beberapa model diatas telah jelas keharamannya, namun bagaimana sebenarnya hukum MLM secara umum ?.

Saya paparkan disini keterangan dari Syaikh Salim Al-Hilali Hafidzahullah1 . Beliau berkata : “ Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti pola piramida dalam sistem pemasaran, dengan cara setiap anggota harus mencari anggota- anggota baru dan demikian seterus selanjutnya. Setiap anggota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan iming-iming dapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM ikut bergabung dalam perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya. Bisnis model ini adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut, yaitu:

Sebenarnya anggota MLM ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yang akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.

Harga produk yang dibeli sebenarnya tidka sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan MLM.

Bahwa produk ini bisa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan MLM ini dijaringan internet.

Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan di iming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan pada mereka.

Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Upline) sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada dilevel atas mereka 2

Berdasarkan ini semua, maka sistem bisnis semacam ini tidak diragukan lagi KEHARAMANNYA karena beberapa sebab yaitu :

Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadapa anggota.
Produk MLM ini bukanlah tujuan yang sebenarnya. Produk in hanya bertujuan untuk mendapat izin dalam undang-undang dan hukum syar’i

Banyak dari kalangan pakar ekonom dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perekonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum. Berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’I didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan luarnya, maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena ini berarti terjadi penipuan terhadap Allah dan Rasul-Nya3 , oleh karena itu sistem bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’I. Kalau ada yang bertanya : “Bahwasanya bisnis ini bermanfaat bagi sebagian orang” Jawabannya : “Adanya manfaat pada sebagian orang tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : Pada keduanya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (QS Al-Baqarah:219)

Tatkala bahaya dari khamr dan perjudian itu lebih banyakdaripada manfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan. Kesimpulannya, bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi dan spekulasi adalah bentuk perjudian” (http:// http://www.alhelaly.com/ , bagian soal jawab)

Fatwa Tentang MLM

Berikut ini adalah teks fatwa Markaz Imam Al-albani bertanggal 26 Sya’ban 1424H yang ditanda tangani oleh para masyaikh Yordania murid-murid Imam Al-Albani, yaitu Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr, Salim bin ‘Id Al-Hilali, Ali bin Hasan Al-Halabi, Masyhur bin Hasan Alu Salman. Berikut teks fatwa mereka.

Banyak pertanyaan yang datang kepada kami dari berbagai penjuru tentang hukum bergabung dengan PT. Bisnis dan perusahaan modern semisalnya yang menggunakan sistem piramida. Yang mana bisnis ini secara umum dijalankan dengan cara menjual produk tertentu serta membayar uang dalam jumlah tertentu tiap tahun untuk bisa tetap menjadi anggotanya. Yang mana karena dia telah mempromosikan sistem bisnis ini maka kemudian pihak perusahaan akan memberikan uang dalam jumlah tertentu yang terus bertambah sesuai denga hasil penjualan produk dan perekrutan anggota baru.

Jawab:
Bergabung menjadi anggota PT. Semacam ini untuk mempromosikannya yang selalu terkait dengan pembayaran uang dengan menunggu bisa merekrut anggota baru serta masuk dalam sistem bisnis piramida ini hukumnya HARAM, karena seorang anggota jelas-jelas telah membayar uang tertentu demi memperoleh uang yang masih belum jelas dalam jumlah yang lebih besar. Dan ini tidak bisa diperoleh melainkan secara kebetulan ia sedang bernasib baik, yang mana sebenarnya tidak mampu diusahakan oleh sianggota tersebut. Ini adalah murni sebuah bentuk perjudian berdasarkan kaedah para ulama’. Wallahu Al-Muwaffiq

Amman al-Balqo’ Yordania
26 Sya’ban 1424H

Penutup

Inilah analisis fiqih tentang fenomena bisnis MLM. Namun tetap kami katakan bahwa jika ada salah satu perusahaan MLM yang selamat dari pelanggaran syar’i yang kami sebutkan diatas, maka hukumnya kembali pada kehalalannya karena memang pada dasarnya semua mu’amalah hukumnya halal kecuali kalau ada sisi yang mengharamkannya. Akan tetapi ada sebuah tanda tanya besar: “Adakah MLM yang seperti itu?” Semoga Allah Ta’ala menjauhkan diri kita dan keluarga kita serta segenap ummat Islam dari melakukan sesuatu yang haram serta semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan rizqi yang halalan thayyiban. Wallahu A’alam Bishowab

Fotenote:

Jangan ada yang berkata bahwa bisa saja hukum ini adalah kesimpulan Syaikh Salim Al-Hilali dari MLM yang ada di Yordania yang berarti tidak mencakup MLM yang ada di Indonesia, karena dua hal :
Ø Ini adalah jawaban beliau atas pertanyaan seputar bisnis MLM yang datang dari seantero penjuru dunia.
Ø Bahwa MLM semuanya dan dimana saja berawal dari Amway yang pada intinya adalah pemasaran produk perusahaan dengan sistem berantai yang membentuk piramida. Dengan dalil bahwa gambaran syaikh tentang MLM sama dengan yan ada di Indonesia. Jika penduduk kota Surabaya berjumlah empat juta orang dan semua penduduk tergabung dalam satu saja perusahaan MLM, maka pada level sebelas seorang anggota tidak mungkin lagi mencari anggota baru di kota Surabaya. Dan ini sepertinya sesuatu yang jauh sekali , karena tidak semua orang ingin mengikuti program MLM, dan anggaplah semuanya tergabung dalam MLM pastilah dalam banyak PT. MLM dan bukan pad asalah satu saja. Yang ini semua mengharuskan orang pada level delapan atau sembilan tidak bisa lagi mencari anggota baru.

Bukti bahwa yang diuntungkan dengan sistem MLM adalah Upline, sedangkan Downline akan selalu dirugikan adalah bahwa bentuk piramida ini akan berhenti pada level tertentu yang mana mereka tidak mungkin bisa mencari anggota baru lagi, ang dengannya semua bonus dan point yang dijanjikan adalah impian belaka. Dan perlu dicermati bahwa dimanapun Downline akan selalu lebih banyak daripada Upline. Sebagai sebuah gambaran, apabila ada suatu Perusahaan MLM yang mengharuskan setiap anggotanya untuk merekrut lima orang anggota lainnya, maka perhitungannya sebagai berikut:

Level Jumlah Orang Perlevel Total Org Yang dibutuhkan
1 1 1
2 5 6
3 25 31
4 125 176
5 625 801
6 3.125 3.926
7 15.625 19.551
8 78.125 97.676
9 390.625 488.301
10 1.953.125 2.441.426
11 9.765.625 12.207.051

Beliau mengisyaratkan pada sebuah hadits :
Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallhu anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Sesungguhnya sebagian dari ummatku akan minum khamr dan mereka menamakannya dengan nama yang lain serta dimainkan musik dan biduanita pada mereka, Sungguh Allah akan membuat mereka tertelan bumi serta menjadikan mereka sebagai kera dan babi” (HR. Abu Dawud 3688, Ibnu Majah 4020 dengan sanad Shahih, lihat As-Shahihah I/138)

[Oleh : Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf]
Ditulis ulang tanpa menyertakan tulisan/teks arabnya dari majalah Al-Furqon, Edisi 11 th III/ Jumadi tsani 1425 hal: 30-35

WWW.ALMANHAJ.OR.ID

30 comments on “Hukum Multi Level Marketing (MLM) dalam Islam

    • selama itu tidak ada pihak yang dirugikan (unsur penipuan) dan sesuai dengan tata cara mu’amalah yang dicontohkan Rasulullah SAW, maka itu hukumnya kembali kepada kehalalannya, kecuali ada illah (sebab) yang menjadikannya haram, maka menjadi haram. Baarakallhu Fiik.

  1. Sekarang yg ƪaƍí Trend adalah MSS (Melia Sehat Sejahtera), Ɣªήğ sebelumnya adalah MNI (Melia Nature Indonesia), banyak yg sudah sukses kata member-membernya karena bonusnya harian, gimana yg ini kira-kira?

    • Perlu kita ketahui, di dalam masalah mu’amalah (dalam hal ini MLM) bukan dilihat sukses atau tidaknya, buat apa sukses sementara Kaidah-kaidah Syar’i Penting bagi pelaku bisnis tersebut tidak diperhatikan dan tentunya ini bagi seorang muslim, karena mereka non-muslim tidak mengenal Kaidah-kaidah Syar’i. Semua halal bagi mereka walaupun didapat dengan cara mendzhalimi orang lain. Bukan berarti tidak boleh sukses, untuk apa sukses di atas penderitaan orang lain. Yang sukses level-level tertentu (upline) sedangkan level-level downline yang paling akhir? Dan hal ini merupakan pengalaman pribadi, setelah bergabung dalam beberapa bisnis MLM, ternyata perusahaan MLM tersebut banyak yang gulung tikar. Kemudian kita kaji dan terus kaji tentang bisnis MLM ini, kemudian kita bertanya-tanya, kenapa perusahaan MLM ini banyak yang tidak bertahan lama… Ribakah, Ghararkah, Penipuankah, Perjudian atau adu nasibkah, Kedzhaliman atau Yang dijual adalah barang haram? sehingga Allah ‘Azza wa Jalla tidak memberikan keberkahan pada mu’amalah ini? Wallahu A’lam Bis Shawwab.

    • selama tidak ada yg dirugikan saya yaki itu sah.n yg di perjual belikan itu khalal.model mlm itu tidak smua sama,,,ada yg berpihak pada member..uplen belum tentu lebih sukses dari down line,,yg kerja keras itulah yg sukses,,beberapa pandangan orang mengira ,gabung langsung sukses,itu tidak mungkin..sukses harus di perjuangkan,ibrat jika kita punya toko jika toko itu biyarkan apah bisa menghasilkan uang ,tentunya tidak pasti harus di urus . n smuanya butuh proses tidak ada sukses yg instan,,,jika ingin bergabung dgn mlm pelajari sistemnya dulu.apakh ada tutup point nya..bagai mana pembonusanya.dan gimana profil perusahaan itu..dan yg pasti bukti nyata..jika ada yg mengatakn iming2,,,itu sah2 saja tentunya bagi orang yg mau bekerja keras.belum ada sejrah nya gabung mlm gak ngapa2in langsung dpat bonus,tentunya kita harus melakukan tugas member dulu….

  2. Assalamu Alaikum. sebelumnya saya tidak tahu keharaman MLM. tapi, ada satu MLM yang mungkin bisa dipertimbangkan hukum syar’i nya. bisa anda lihat di http://www.klikvsi.com
    jika mmg dalam MLM ini jelas keharamannya? maka sy dengan senang hati akan meninggalkannya. karena saya sudah menjadi member selama sebulan. mohon jawabannya ya pak…

    • Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.
      Coba kita cermati lagi dalam bahasan Hukum Multi Level Marketing (MLM) dalam Islam di atas. Pada sub bahasan : Kaedah Penting Bagi Pelaku Bisnis

      Ada dua kaedah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum islam, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim Rahimahullah “Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarangnya”. (Lihat I’lamul Muwaqi’in 1/344).

      Dalil ibadah adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam :
      “Dari ‘Aisyah radhiallahu anha berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “ Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka akan tertolak “(HR. Muslim)

      Adapun dalil masalam mu’amalah adalah firman Allah Ta’ala:
      Dia-lah Allah yang telah menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah: 29)
      (Lihat Ilmu Suhul Al-Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, Al-Qawa’id al-Fiqhiyah oleh Syaikh As-Sa’di hal:58)

      Oleh karena itu apaun nama dan model bisnis tersebut pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar sukarela dan tidak mengandung salah satu unsur keharaman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

      “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

      Juga firman-Nya:
      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu”. (QS. An-Nisaa: 29)

      Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis menjadi haram adalah :

      Riba
      Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri” (HR. Ahmad 15/69/230, lihat Shahihul Jami 3375)

      Ghoror
      (Adanya Spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas).
      “Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam melarang jual beli ghoror”. (HR. Muslim 1513)

      Penipuan
      Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu”. (HR. Muslim 1/99/102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224)

      Perjudian atau adu nasib
      Firman Allah Ta’ala:
      “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, adalah perbuatan syaithan maka jauhilah.” (QS. Al-Maaidah: 90)

      Kedzhaliman
      Sebagaimana firman Allah:
      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil…” (QS. An-Nisaa:29)

      Yang dijual adalah barang haram
      Dari Ibnu ‘Abbas radhiallhu anhuma berkata :”Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (HR. Abu dawud 3477, Baihaqi 6/12 dengan sanad shahih)
      (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul Ma’ad Imam Ibnul Qayyim 5/746, Taudlihul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam 2/233, Ar-Roudloh An-Nadiyah 2/345, Al-Wajiz Syaikh Abdul Adlim al-Badawi hal:332).

      Kira-kira ada tidak salah satu atau lebih dari 6 (enam) point tersebut dalam usaha yang Saudari sekarang bergabung didalamnya?
      Dan pada dasarnya tidak hanya bentuk bisnis MLM, bisnis apa pun itu nama dan bentuknya ketika ada salah satu atau lebih dari hal-hal yang disebutkan di atas, maka hukumnya menjadi haram. Kesimpulannya tinggal kita cermati saja. Barakallhu Fiik…

    • jika product nya kharam juga pasti kharam..jika khalal kita lihat dulu..kita dirugikan ga ..kita diwajibkab selalu beli ga .ato modal hnya sekali seumur hidup..n bagemana kalo kita gak mengerjakn bisnis itu,ato hnya member pasif apakh kita dapat panismen ato enggak..jika tidak mlm seprti ini sangt menguntunkan bagi siapa aja..conto jika prodak kita habis apakah kita masih mempunyai saham di perusahaan itu apa tidak ,jika iya itu patut kita coba..dan ada lagi ,apakah modal yg kita keluarkan nantinya kita bisa mendapatkan prodak yg lebih besar harganya dari modal yg kita keluarkan,jadi secara hukum jual beli biasa itu sah,,n modal kita kembali

    • Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita bisa mempertimbangkan kembali dengan neraca Syari’at Islam, dimana merupakan salah satu tanda telah dekatnya akhir zaman (kiamat) sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa akan banyak (merajalela) Mu’amalah dengan cara Riba. Jazakallahu Ahsanal Jaza. Amin!!

    • kalau hanya sebagai pembeli hukumnya sah-sah saja, karena kembali kepada niat kita, yaitu akadnya hanya sebagai pembeli, karena memang kita membutuhkan produk tersebut. Dan memang ada seseorang yang bergabung (menjadi member) dengan bisnis MLM dengan tujuan supaya harganya murah membeli produk dari perusahaan MLM tersebut ketika dia sudah merasakan khasiat dari produknya, misalnya Obat-obat Herbal, dll. Begitulah salah satu sistem yang dipraktekkan dalam sebuah perusahaan MLM. Menjual produk dengan harga yang tinggi sebagai penghasilan untuk membackup bonus-bonus (rewards) yang ditawarkan dalam sistem tersebut bagi para membernya. Diantaranya, bonus penjualan, bonus rekrutment, bonus jaringan, bonus duplikat, dan lain-lain. Wallahu A’lam bis Shawwab.

  3. Assalamualaikum..
    saya ingin bertanya..
    saya sudah bergabung dengan salah satu bisnis MLM selama 1 bulan, jujur saya katakan saya memang tidak begitu memerlukan producknya. saya ikut bisnis ini karena ajakan dari teman dengan iming iming saya akan diberi bonus harian, mingguan dan tahunan (tanpa syarat), tapi sampai sekarang saya belum mendapatkan bonus sedikitpun karena saya belum mendapatkan member yg baru.
    -apakah saya harus meninggalkan bisnis ini ?
    bagaimana cara agar saya bisa meninggalkannya karena saya merasa malu kepada teman saya bila saya katakan langsung bahwa saya ingin keluar dari bisnis ini.
    wassalam.

    • Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.
      Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Persoalan MLM termasuk mu’amalah. Sedangkan hukum asal dari mu’amalah adalah mubah sehingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Namun secara umum, -khususnya yang konvensional yang banyak ditemui di masyarakat- hukumnya haram dengan enam alasan –walaupun masih ada beberapa alasan lainnya-:

      Pertama:
      Di dalam transaksi dengan metode MLM, seorang anggota mempunyai dua kedudukan: Kedudukan pertama, sebagai pembeli produk, karena dia membeli produk secara langsung dari perusahaan atau distributor. Pada setiap pembelian, biasanya dia akan mendapatkan bonus berupa potongan harga. Kedudukan kedua, sebagai makelar, karena selain membeli produk tersebut, dia harus berusaha merekrut anggota baru. Setiap perekrutan dia mendapatkan bonus juga. Sedangkan system jual beli semacam ini termasuk diharamkan karena melakukan dua akad dalam satu jual beli.

      Kedua:
      Di dalam MLM terdapat makelar berantai. Sebenarnya makelar (samsarah) dibolehkan di dalam Islam, yaitu transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya memasarkan produk dan pertemukannya dengan pembelinya. Adapun makelar di dalam MLM bukanlah memasarkan produk, tetapi memasarkan komisi. Maka, kita dapatkan setiap anggota MLM memasarkan produk kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya, sehingga terjadilah pemasaran berantai. Dan ini tidak dibolehkan karena akadnya mengandung gharar dan spekulatif.

      Ketiga:
      Di dalam MLM terdapat unsur perjudian, karena seseorang ketika membeli salah satu produk yang ditawarkan, sebenarnya niatnya bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar sebagai sarana untuk mendapatkan point yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Sedangkan nilai yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan. Perjudian juga seperti itu, yaitu seseorang menaruh sejumlah uang di meja perjudian, dengan harapan untuk meraup keuntungan yang lebih banyak, padahal keuntungan tersebut belum tentu bisa ia dapatkan.

      Keempat:
      Di dalam MLM banyak terdapat unsur gharar (spekulatif) atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syari’at, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak. Tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang setiap transaksi yang mengandung gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya ia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli dengan cara al-hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur gharar (spekulatif).“ (HR. Muslim, no: 2783)

      Kelima:
      Di dalam MLM terdapat hal-hal yang bertentangan dengan kaidah umum jual beli, seperti kaidah : Al Ghunmu bi al Ghurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau resiko yang dihadapinya. Di dalam MLM ada pihak-pihak yang paling dirugikan yaitu mereka yang berada di level-level paling bawah, karena merekalah yang sebenarnya bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya yang menikmati adalah orang-orang yang berada pada level atas. Merekalah yang terus menerus mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa bekerja, dan mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi jika mereka kesulitan untuk melakukan perekrutan, dikarenakan jumlah anggota sudah sangat banyak.

      Keenam:
      Sebagian ulama mengatakan bahwa transaksi dengan sistem MLM mengandung riba fadhl, karena anggotanya membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya, seakan-akan ia menukar uang dengan uang dengan jumlah yang berbeda. Inilah yang disebut dengan riba fadhl (ada selisih nilai). Begitu juga termasuk dalam kategori riba nasi’ah, karena anggotanya mendapatkan uang penggantinya tidak secara cash. Sementara produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai sarana untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota, sehingga keberadaannya tidak berpengaruh dalam hukum transaksi ini.

      Saudara Kevin, mengenai pertanyaan anda, apakah saya harus meninggalkan bisnis tersebut, tinggal kita pelajari lagi sistem yang dipraktekkan dalam bisnis tersebut. Apakah mu’amalah itu seperti yang dijelaskan di atas atau tidak?

      Kemudian cara meninggalkannya barangkali saudara Kevin lebih mengetahui, anda bisa memberikan penjelasan tentang hal itu dengan cara berdiskusi untuk mengevaluasi bisnis MLM yang sedang digelutinya, bagaimana MLM menurut tinjauan syari’at Islam. Barakallahu Fiik. Wallahu A’lam Bishawab.

  4. Assalamu’alaikum wr wrb.
    Langsung pd pertanyaan sy..apakah bisnis MLM yng didirikan oleh seorang ustad pun akan Haram hukumnya?? Karna sy termasuk slah satu anggotanya..mohon dipelajari dulu sistem MLM yng sy ikuti ini..memang pola ini membentuk jaringan.. Namun dibisnis ini tdk ada produk yng diperjual belikan,dlm bisnis ini kmi hnya mendapat sistem kemudahan transaksi yng sngat memudahkan kmi dlm melakukan isi ulang pulsa,pembayaran listrik dll..tdk ada sm skali kewajiban tutup point (tdk menjual produk sbyak skian point agar bs mendpt bonus pd skian point).sistem keanggotaan km pun seumur hidup.jd tdk hrus membyar utk perpanjangan anggota.tujuan mndirikan ini pun menurut sy mulia,krna utk menyelamatkan/membeli kmbali aset bangsa ni yng tlh byk dikuasai kapitalis asing.malah utk km para anggota bs memiliki saham (patungan usaha) pd aset2 tsb,sehingga memiliki saham atw aset utk penduduk indonesia ini bukan hnya milik kalangan berduit saja..dsni pun tdk ada kewajiban utk mencari sbyk2 nya anggota,hnya memang utk stiap org lain bergabung akan di taro dibawah qt.dr segi harga kami pun mendapat hrga lbh murah dr tmpt biasa km membeli pulsa.krna km sdh memiliki sistem transaksi nya.namun diperlakukan cashback dan reward utk stiap transaksi km dan mdpt komisi dr org yng mendaftar. Dan ada 3 mcm peluang usaha dsni, membentuk jaringan,membuka loket pembayaran,dan utk transaksi/pemakaian sndiri.mohon jawaban nya krna dlm wktu dkat ini pun kmi akan mendapat sertifikat Legal syar’I dari BSN (Badan Syariah Nasional)..Mohon Penjelasannya :) terima kasih Wassalamualaikum

    • Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.
      Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Persoalan MLM termasuk mu’amalah. Sedangkan hukum asal dari mu’amalah adalah mubah sehingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Namun secara umum, -khususnya yang konvensional yang banyak ditemui di masyarakat- hukumnya haram dengan enam alasan –walaupun masih ada beberapa alasan lainnya-:

      Pertama:
      Di dalam transaksi dengan metode MLM, seorang anggota mempunyai dua kedudukan: Kedudukan pertama, sebagai pembeli produk, karena dia membeli produk secara langsung dari perusahaan atau distributor. Pada setiap pembelian, biasanya dia akan mendapatkan bonus berupa potongan harga. Kedudukan kedua, sebagai makelar, karena selain membeli produk tersebut, dia harus berusaha merekrut anggota baru. Setiap perekrutan dia mendapatkan bonus juga. Sedangkan system jual beli semacam ini termasuk diharamkan karena melakukan dua akad dalam satu jual beli.

      Kedua:
      Di dalam MLM terdapat makelar berantai. Sebenarnya makelar (samsarah) dibolehkan di dalam Islam, yaitu transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya memasarkan produk dan pertemukannya dengan pembelinya. Adapun makelar di dalam MLM bukanlah memasarkan produk, tetapi memasarkan komisi. Maka, kita dapatkan setiap anggota MLM memasarkan produk kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya, sehingga terjadilah pemasaran berantai. Dan ini tidak dibolehkan karena akadnya mengandung gharar dan spekulatif.

      Ketiga:
      Di dalam MLM terdapat unsur perjudian, karena seseorang ketika membeli salah satu produk yang ditawarkan, sebenarnya niatnya bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar sebagai sarana untuk mendapatkan point yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Sedangkan nilai yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan. Perjudian juga seperti itu, yaitu seseorang menaruh sejumlah uang di meja perjudian, dengan harapan untuk meraup keuntungan yang lebih banyak, padahal keuntungan tersebut belum tentu bisa ia dapatkan.

      Keempat:
      Di dalam MLM banyak terdapat unsur gharar (spekulatif) atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syari’at, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak. Tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang setiap transaksi yang mengandung gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhubahwasanya ia berkata : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ “Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli dengan cara al-hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur gharar (spekulatif).“ (HR. Muslim, no: 2783)

      Kelima:
      Di dalam MLM terdapat hal-hal yang bertentangan dengan kaidah umum jual beli, seperti kaidah : Al Ghunmu bi al Ghurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau resiko yang dihadapinya. Di dalam MLM ada pihak-pihak yang paling dirugikan yaitu mereka yang berada di level-level paling bawah, karena merekalah yang sebenarnya bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya yang menikmati adalah orang-orang yang berada pada level atas. Merekalah yang terus menerus mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa bekerja, dan mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi jika mereka kesulitan untuk melakukan perekrutan, dikarenakan jumlah anggota sudah sangat banyak.

      Keenam:
      Sebagian ulama mengatakan bahwa transaksi dengan sistem MLM mengandung riba fadhl, karena anggotanya membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya, seakan-akan ia menukar uang dengan uang dengan jumlah yang berbeda. Inilah yang disebut dengan riba fadhl (ada selisih nilai). Begitu juga termasuk dalam kategori riba nasi’ah, karena anggotanya mendapatkan uang penggantinya tidak secara cash. Sementara produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai sarana untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota, sehingga keberadaannya tidak berpengaruh dalam hukum transaksi ini.

      Keharaman jual beli dengan sistem MLM ini, sebenarnya sudah difatwakan oleh sejumlah ulama di Timur Tengah, diantaranya adalah Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan yang dikeluarkan pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir 1424 H, bertepatan dengan tanggal 17 Juni 2003 M pada majelis no. 3/24. Kemudian dikuatkan dengan Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi pada tanggal 14/3/1425 dengan nomor (22935). Adapun MLM yang berlebel syar’iah, maka perlu dikaji sendiri dan khusus; Adakah ka’idah dasar syariah yang dilanggarnya sehingga menyebabkan haramnya system yang digunakan? Karena boleh atau tidaknya penjualan dengan MLM ditentukan oleh system yang dipraktekkan. Sebatas lebel syari’ah tidak menentukan kehalalan. Wallahu Ta’ala A’lam.

      Dan perlu diingat, jangan karena melihat figur seorang Ustadz. Ustadz itu manusia biasa yang tidak luput dari berbuat lupa dan salah.
      Barangkali bisa membantu memahami, ini ada link saudara kita yang membahas bsinis MLM yang di pimpin seoarng Ustadz, silahkan kunjungi : http://roda2blog.com/2013/11/17/kenapa-vsi-disebut-money-game-with-update/

    • tapi ada beberapa mlm yg tidak seperti dikatakn diatas .justru uplin ini malah kerjanya lebih keras daripada yg di bawah..karna dia membantu n terus membantu para down line nya,,hingga bisa sukses itu bisa diartikan bahwa level atas pun ikut bekerja keras bukan hnya level bawah..

  5. lsng sj pada pertanyaan :
    sy mengikuti MLM tidak hanya sebatas mencari downline, karna bonus bs juga didapat dari menjual produk.hanya saja ada beberapa pertanyaan yg mungkin bs tolong di perjelas
    1. sy bergabung dengan MLM ni bs sj karna teriming-imingi dengan adanya asuransi kematian, beasiswa untuk anak,
    2. produk yg di perjual belikan blm mendapatkan ijin resmi dari BPOM dan MUI, hanya saja sudah mendapat sertifikat dari majelis ulama amerika serikat, dan izin kesehatan yg ada di amerika juga,

    apakah harus mendapatkan pengakuan dari INdonesia dl baru saya berjualan produk ini (karna masih baru)

    untuk jawabannya saya ucapkan terima kasih

    • Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta ummatnya yang senantiasa mengikuti sunnahnya.

      Pada pertanyaan pertama, saudara menyebutkan, “sy bergabung dengan MLM ni bs sj karna teriming-imingi dengan adanya asuransi kematian, beasiswa untuk anak,”
      Inilah yang disebut spekulasi. Kalau saya melihat permasalahan ini menjadi 2, MLM dan ASURANSI. Saudara bisa mengkaji/mempelajari ulang, bagaimana hukum Asuransi dalam Islam. Bisa saya jelaskan sedikit tentang Hukum Asuransi ini:

      Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. (Wikipedia)
      Berbagai jenis asuransi asalnya haram baik asuransi jiwa, asuransi barang, asuransi dagang, asuransi mobil, dan asuransi kecelakaan. Secara ringkas, asuransi menjadi bermasalah karena di dalamnya terdapat riba, qimar (unsur judi), dan ghoror (ketidak jelasan atau spekulasi tinggi).

      Berikut adalah rincian mengapa asuransi menjadi terlarang:
      1. Akad yang terjadi dalam asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan (mu’awadhot). Jika kita tinjau lebih mendalam, akad asuransi sendiri mengandung ghoror (unsur ketidak jelasan).
      2. Dari sisi lain, asuransi mengandung qimar atau unsur judi. Bisa saja nasabah tidak mendapatkan accident atau bisa pula terjadi sekali, dan seterusnya. Di sini berarti ada spekulasi yang besar. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu pihak asuransi bisa rugi besar karena banyak yang mendapatkan musibah atau accident. Dari sisi nasabah sendiri, ia bisa jadi tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekali pun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara utuh, atau sebaliknya. Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi.
      3. Asuransi mengandung unsur riba fadhel (riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih) dan riba nasi’ah (riba karena penundaan) secara bersamaan. Bila perusahaan asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu adalah riba fadhel. Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasi’ah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma’ (kesepakatan ulama).
      4. Asuransi termasuk bentuk judi dengan taruhan yang terlarang. Judi kita ketahui terdapat taruhan, maka ini sama halnya dengan premi yang ditanam. Premi di sini sama dengan taruhan dalam judi. Namun yang mendapatkan klaim atau timbal balik tidak setiap orang, ada yang mendapatkan, ada yang tidak sama sekali. Bentuk seperti ini diharamkan karena bentuk judi yang terdapat taruhan hanya dibolehkan pada tiga permainan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ
      “Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda” (HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani).
      5. Di dalam asuransi terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan jalan yang batil. Pihak asuransi mengambil harta namun tidak selalu memberikan timbal balik. Padahal dalam akad mu’awadhot (yang ada syarat mendapatkan keuntungan) harus ada timbal balik. Jika tidak, maka termasuk dalam keumuman firman Allah Ta’ala,
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
      6. Di dalam asuransi ada bentuk pemaksaan tanpa ada sebab yang syar’i. Seakan-akan nasabah itu memaksa accident itu terjadi. Lalu nasabah mengklaim pada pihak asuransi untuk memberikan ganti rugi padahal penyebab accident bukan dari mereka. Pemaksaan seperti ini jelas haramnya.

      Pertanyaan kedua, apakah produk tersebut harus mendapatkan pengakuan (rekomendasi) dari MUI dan BPOM Indonesia?
      Untuk masalah ini saya kira yang namanya sebuah perusahaan baik konvensional atau berbentuk MLM biasanya harus ada izin atau mendaftarkan kepada pihak yang berkompeten di bidangnya, yaitu BPOM dan MUI setempat, agar diakui kehalalan dan layak konsumsinya produk tersebut. Walaupun sebagaimana saudara sebutkan, bahwa produk tersebut telah mendapat sertifikat resmi dari MUI dan BPOM Amerika. Secara tinjauan hukum Islam, ketika produk tersebut tidak terbuat dari barang yang haram maka merupakan sesuatu hal yang dibolehkan. Tetapi, karena di Indonesia ini punya aturan main tersendiri. Jadi, harus menempuh prosedur sebagaimana aturan mainnya, agar perusahaan tersebut mempunyai legalitas.

      Wallahu A’lam bis Shawab

  6. Ass…Bagaimana dengan MLM Telexfree.??? setiap Member mendapatkan Komisi Tetap setiap Minggunya dengan bekerja beriklan setiap hari dengan kontrak kerja selama 52 minggu., dalam bisnis telexfree setiap member mendapatkan komisi hanya dengan merekrut member 2 orang saja dii bulan pertama selanjutnya mendapatkan gaji dari bulan pertama sampai ke 12 $ 100/minggu berlaku bagi semua member baik yang tingkat tertinggi maupun terendah semua sama hanya dengan beriklan tanpa merekrut lagi member.., yang membedakan hanya bonus yang didapatkan sesuai dengan kerja keras.. bonus didapatkan tidak dari komisi yang di potong dari downline di bawahnya tapi di berikan oleh perusahaan.. artinya yang tingkat terendah pun tetap mendapatkan komisinya dengan konsisten beriklan..artinya juga upline sama sekali tidak mendapatkan keutungan di atas penderitaan downline di bawahnya karena downline di bawahnya sudah mendapatkan komisi tetap atas beriklan. Mohon tanggapan dan masukan yang realistis sesuai kaidah islam yang berlaku..Kebenaran hanya milik Allah S W T.
    wasslaam…!

  7. assalammuaialaikum..
    Langsung saja,
    Saya sedang bingung dengan bisnis yg saya jalani saat ini. Salah 1 MLM yg sudah berdiri selama 13 thn di Indonesia. Mungkin tidak asing lagi jika kita mendengar tentang TIENS. Yang ingin saya tanyakan, apakah bisnis tersebut melanggar hukum2 islam?? Apakah saya harus meninggaalkannya? Karna saya pribadi masih belum terlalu paham untuk menjalankannya. Saya takut salah mengambil langkah. Mohon penjelasannya. Wasalam :)

  8. assalamualaikum wr wb.
    pertanyaan saya, bagaimana kalau ikut MLM tapi tidak mencari downline. jadi produk hanya digunakan sendiri dan dijualkan (bila ada yang berminat) seperti akad jual beli biasa.
    terima kasih

  9. Saya bergabung dgn bisnis MLM sdh 1 thn ini, bonus harian jika ditotal sampai saat ini sekitar 200 jt, belum termasuk bonus gratis jalan2 keluar negeri. Tp jujur saja sejak bergabung dgn MLM ini hidup saya selalu byk masalah, putus silaturahim dg bbrp kawan dan byk ketidakberkahan lainnya…saya pun mencari2 dan byk bertanya kpd para asatidz ttng hukum bisnis MLM ini. Alhamdulillah Allah memberi petunjuk ttng hukum bisnis MLM. Yg paling jelas adalah ketidakberkahan hidup yg paling membuat saya ingin segera keluar dari bisnis ini…

  10. Terimakasih bahasannya, sangat bermanfat sekali bagi kami. Dari beberapa hal yang saya lihat dri bisnis MLM dan beberapa penjelasan diatas, menjadi jelas bahwa hukumnya lebih banyak haramnya daripada halalnya. Jadi lebih baik ditinggalkan saja. Lebih banyak ragunya dari pada kepastian, jadi lebih baik tinggalkan sesuatu yang meragukan. Terimakasih

  11. Bagaimana jika sistem MLM di jalankan pada bisnis pemberangkatan umroh??bukan pada pemasaran produk lagi..apakah keharamannya pun sama??

  12. Bagaimana jika sistem MLM di jalankan pada bisnis pemberangkatan umroh??bukan pada pemasaran produk lagi..apakah keharamannya pun sama??
    Mohon penjelasannya.!!terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s