Membelakangi Al-Quran, Masalah Besar

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW lewat Malaikat Jibril sebagai pedoman utama ummat Islam. Menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk mengangkat Al-Quran sebagai landasan utama dalam mengamalkan Islam di samping berpedoman pula kepada Hadits Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Mengimani seluruh isi Al-Quran hukumnya wajib, sedang mengingkari satu bagian dari ayat Al-Quran saja hukumnya murtad alias keluar dari Islam. Jadi iman kepada seluruh ayat Al-Quran itu mutlak wajibnya. Dan keimanan itu harus dibuktikan dengan amal. Sedang membaca Al-Quran itu sendiri nilainya adalah ibadah.

Meskipun kedudukan Al-Quran itu demikian tingginya dalam Islam, namun belum tentu orang yang mengaku dirinya Muslim mau memperhatikan kitab sucinya itu. Padahal tidak memperhatikan kitab suci Al-Quran itu bukan masalah kecil, namun merupakan masalah besar. Sehingga Nabi Muhammad n pun mengeluhkan akan ada diantara kaumnya yang tidak memperhatikan Al-Quran; bahkan keluhan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam itu langsung difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala :

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diperhatikan.” (terjemah Q.S.Al-Furqon ayat 30).

Siapakah yang rasa cinta kasihnya kepada ummatnya melebihi Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam yang berdo’a untuk ummatnya sampai menangis, hingga Allah mengutus Malaikat Jibril agar menanyakan kenapa Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam menangis? Nabi Shalallaahu alaihi wasalam lah yang sangat mencintai ummatnya. Dalam hadits Shahih Muslim diriwayatkan:

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam membaca Firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam (hal perkataan) Nabi Ibrahim: “ Ya Tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim/ 14:36). Dan seterusnya. Dan berkata Isa p: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguh-nya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah: 118). Lalu Nabi Muhammad n mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Alllah, ummatku ummatku” dan beliau menangis. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, sedang Tuhanmu lebih mengetahui, lalu tanyalah dia: apa yang menjadikan kamu menangis? Lalu Jibril mendatangi Nabi n dan menanyainya. Maka Rasulullah n memberi khabar pada-Nya dengan apa yang telah Nabi katakan, sedang Dia mengetahui. Lalu Allah berfirman: Hai Jibril, temuilah muhammad, lalu katakanlah padanya: Sesungguhnya Aku akan meridhoimu dalam ummatmu dan Aku tidak menjadikanmu sedih.” (HR Muslim dengan Syarah An-Nawawi no 346—202452).

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim mengemu-kakan bahwa sikap Nabi Shalallaahu alaihi wasalam itu adalah merupakan kasih sayang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sempurnanya terhadap ummatnya dan perhatiannya terhadap kemaslahatan mereka, dan konsennya terhadap urusan ummatnya.

Lebih dari itu, siapakah yang lebih berperasaan kasih sayang terhadap seluruh manusia melebihi Nabi Muhammad n yang menganjurkan:
اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ [ الترمذي، حسن صحيح في تحفة الأحوذي رقم 1930].
“Sayangilah orang yang di bumi niscaya kamu akan disayangi oleh (Allah)Yang di langit. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Hasan Shohih, dalam syarah Jami’ut Tirmidzi –Tuhfatul Ahwadzi– nomor 1930).

Menurut kebiasaan manusia yang berperasaan mencintai, tingkah laku orang yang dicintai selalu dipandang baik, dibela dan kalau ada kesalahan diusahakan untuk dimaafkan dengan berbagai jalan. Kebiasaan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad n hingga betapa besar semangat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam agar kerabatnya yang dihormati masuk Islam. Karena bersemangatnya itu, sesuai dengan rasa cintanya, karena memang kerabatnya ini (Abu Thalib paman nabi Shalallaahu alaihi wasalam) membela Nabi dalam hal penyiaran Islam, namun Allah Subhannahu wa Ta’ala menegurnya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qoshosh : 56).

Tebalnya rasa kasih sayang Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam yang tiada bandingannya itu ternyata masih dikalahkan oleh hati kerabatnya itu sendiri (Abu Thalib, paman Nabi Shalallaahu alaihi wasalam) yang memang tidak mau masuk Islam. Demikian pula kasih sayang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam masih dikalahkan oleh perbuatan kaumnya yang menjadikan Nabi sampai mengeluh kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, lantaran kaumnya membelakangi Al-Quran, tidak menggubris Al-Quran.

Sebenarnya, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itu keterlaluan. Betapa tidak. Rasa kasih sayang, bahkan kesabaran Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bisa disimak dari sikapnya ketika dalam perang Uhud beliau berdarah wajahnya, dan beliau mengusap darah di wajahnya itu sambil berkata:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ. [رواه البخاري و مسلم].
Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) kaumku karena sesungguh-nya mereka tidak mengetahui. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sikap tidak menggubris Al-Quran, membelakangi, berpaling dari ayat-ayat Allah itu sama sekali bukan kejahatan yang ringan dan mengaduhnya Nabi atas sikap kaumnya yang tak menghiraukan Al-Quran itu, bukan berarti menunjukan keputusasaan beliau. Tidak. Namun, sikap kaum yang membelakangi Al-Quran itulah yang tak tahu diri. Terbukti, Nabi n tidak dipersalahkan mengaduh seperti itu. Bahkan Allah sendiri mengecam keras terhadap orang-orang yang membelakangi Al-Quran atau berpaling dari Al-Quran, dengan firmanNya, yang artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS Al-Kahfi : 57)

Lima golongan yang membelakangi Al-Quran

Sikap mengabaikan Al-Quran yang sangat dikecam itu jelas disebut oleh Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam sendiri dilakukan oleh kaumnya. Kaumnya itu bukanlah hanya bangsa Arab, bukan hanya bangsa Quraisy, namun adalah kaum yang ada ketika Nabi Muhammad n diutus dan sesudah itu.

Lantas, siapakah mereka yang termasuk jelas-jelas berpredi-kat menjadikan Al-Quran di belakang punggungnya itu?

Menurut Ibnu Qoyim ada 5 jenis atau 5 macam orang yang termasuk berpaling dari Al-Qur’an.

Lima macam orang yang membelakangi Al-Quran itu, menurut Ibnu Qoyim adalah:
• Berpaling dari mendengarkan dan mengimani Al-Quran
• Berpaling dari mengamalkan Al-Quran walaupun membaca dan mengimaninya.
• Berpaling dari menegakkan dan menggunakan hukum-nya.
• Berpaling dari mengkaji dan memahami artinya.
• Berpaling dari berobat dan mengobati orang lain dengan Al-Quran dalam seluruh penyakit hati. (Lihat Tafsir Mahaasinut Ta’wil 12/575).
Setelah kita mendapatkan penjelasan ayat-ayat Allah seperti ini, apakah kita melupakannya lagi seperti yang telah diperingatkan Allah tersebut?

Kita tahu, bahwa Allah memberikan tuntunan kepada manusia adalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan akherat. Dan kita tahu, Allah adalah Rouufur Rahiem, Maha kasih sayang yang amat sayang, hingga kepada umat Islam diberi petunjuk-petunjuk komplit, sampai model pakaian untuk muslimah, misalnya, itupun dengan sikap dan sifat kasih sayangNya Allah masih “sudi” menunjuki, lewat Al-Quran. Maka pantas kalau Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam mengeluh dengan sangat menyayangkan sikap sebagian kaumnya yang berpaling dari Al-Quran, dan Allah pun menyebut kaum macam itu sebagai terlalu zhalim. Dalam bahasa pergaulan manusia sehari-hari bisa disebut “disayangi tapi malah tak tahu diri”. Lebih-lebih kalau sampai berani mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap berpalingnya itu. Sikap semacam itu lebih dahsyat lagi hingga Allah mengemukakan pertanyaan yang cukup dahsyat pula, yang artinya: “Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan mengajari Allah tentang agamamu (keyakinanmu) padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (terjemah QS Al-Hujurat : 16).

Usaha Mengikis

Sikap berpaling dari Al-Quran yang telah dikeluhkan oleh Nabi dan dikecam oleh Allah itu, bisa dikikis dengan berbagai usaha. Nan jauh di desa-desa pelosok sana, betapa banyak masjid, musholla dan langgar yang setiap malamnya untuk bertadarrus di bulan Ramadhan. Semangat mereka tetap tinggi, walau lampu-lampu yang menerangi kadang-kadang sangat sederhana, bahkan minyaknya pun tersendat-sendat. Sudahkah kita menyumbangkan sesuatu untuk mereka? Kitab-kitab Mushaf Al-Quran yang mereka baca pun sudah rusak. Sudahkah kita pikirkan? Sebaliknya, di masjid-masjid kota yang cukup terang benderang dan banyak berjajar kitab Al-Qurannya, tekunkah kita membaca Al-Quran dan ber’iktikaf di masjid-masjid itu? Dan di balik itu, anak-anak kita serba kita manjakan, apa saja kemauannya kita turuti. Sudahkah kita didik mereka itu secara benar-benar tentang Al-Quran?

Mungkin, seribu pertanyaan akan ditujukan pada kita, dalam saringan: apakah kita termasuk golongan orang-orang yang membelakangi Al-Quran tersebut atau tidak. Termasuk penyokong, pendukung bahkan pelopor yang membelakangi Al-Quran atau tidak. Dan seberapa usaha kita untuk mengikis sikap membelakangi Al-Quran itu. Semuanya akan dinilai. Dan Al-Quran pun menjadi saksi di akherat nanti. Itulah yang perlu kita sadari sejak kini.

Mudah-mudahan kita, keluarga kita, dan ummat Islam pada umumnya terhindar dari golongan orang-orang dzalim yang berpaling dari Al–Quran itu. Amien.

Wallahu A’lam bis Shawwab

4 Prinsip Membedakan antara Islam dan Sekuler

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para shahabatnya. Wa ba’d.

Ini adalah risalah singkat yang membahas tentang kaidah-kaidah yang bisa digunakan oleh seorang muslim untuk mengetahui perbedaan antara agamanya yang agung dengan agama neo-paganisme dan syirik kontemporer yang dinamakan dengan sekularisme beserta cabang-cabangnya. Dengan mengetahui perbedaan itu ia bisa menjauhinya, meninggalkan, serta melepaskan diri darinya dan para pengikutnya yang disebut dengan sekularis. Dia bisa membebaskan diri dari mereka karena Allah, membenci, mengkafirkan, memusuhi, dan berjihad terhadap mereka, baik mereka yang berperan sebagai pemikir, intelektual, politikus, pemerintah, jurnalis, penyanyi, atau pelukis, baik yang berupa teori, lembaga pemerintah atau lembaga non-pemerintah (LSM). Berikut inilah keempat kaedah tersebut

Kaedah Ke-1

Kaum musyrikin yang menjadi obyek diutusnya Rasulullah saw adalah kaum yang tetap meyakini tauhid rububiyyah
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (al-Mu’minun:84-89)
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf:106)
Meskipun demikian, Rasulullah tetap memerangi mereka, menyatakan kekufuran mereka dan tidak memasukkan mereka ke dalam kelompok Islam
Kaum sekularis yang moderat masih mengakui tauhid rububiyyah. Mereka pun masih melakukan beberapa macam bentuk ibadah, tetapi itu semua tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam. Adapun kaum sekular yang ekstrim, maka mereka mereka lebih sesat lagi, sebab mereka tidak memiliki sesembahan dan tIdak pula memiliki Rabb, kehidupan bagi mereka adalah materi belaka.

Kaedah ke-2

Rasulullah saw diutus kepada umat manusia yang memiliki perundang-undangan tersendiri. Undang-undang itu mereka gunakan untuk memutuskan persengketaan di antara mereka. Mereka memiliki tradisi jahiliyah, yang mereka jadikan landasan kehidupan mereka, sehingga mereka menolak hukum dan hidayah Allah. Karena itulah Allah swt dan Rasul-Nya saw mengkafirkan dan memerangi mereka, serta tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Di antara perundang-undangan yang mereka miliki, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An’am:121)
Dan Allah swt berfirman tentang kaum Quraisy dan para pengikutnya
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (asy-Syura:21)
Dan kaum sekular saat ini juga memiliki perundang-undangan, hukum positif, baik hukum kenegaraan, daerah atau hukum internasional. Hukum itulah yang digunakan untuk memutuskan persoalan yang timbul di antara mereka. Mereka juga memiliki tradisi dan budaya jahiliyah yang menjadi dasar kehidupan mereka. Mereka menamakan tradisi mereka sebagai peradaban, pencerahan dan kemajuan. Mereka tidak menerima hukum Allah swt dan petunjuk-Nya, maka mereka pun harus dikafirkan dan kaum muslim harus berlepas diri dari mereka.

Kaedah ke-3

Bahwa Rasulullah saw datang kepada manusia yang masih berpegang pada ajaran agama dalam satu keadaan tetapi meninggalkannya dalam keadaan yang lain. Mereka menyembah Alah dalam keadaan sulit, tetapi dalam keadaan lapang mereka melalaikan Allah swt. Dalam kondisi seperti itu, mereka tetap dinamakan sebagai musyrik. Allah swt berfirman
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (al-Ankabut:65)
Demikian juga, mereka memberikan suatu hak kepada Allah swt, dan juga memberikan hak yang lain kepada berhala mereka, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah swt;
Lalu mereka berkata sesuai: “Ini untuk Allah dan Ini untuk berhala-berhala kami”. (al-An’am:136)
Kaum sekular juga demikian, mereka menyembah Allah swt di masjid dan di bulan Ramadhan. Dalam pernikahan, talak, dan urusan perdata mereka mengikuti aturan Allah, tetapi dalam urusan yang lain mereka kembali kepada perundang-undangan dan tradisi mereka yang sesat.

Kaidah ke-4

Rasulullah saw diutus kepada kaum yang memiliki bermacam-macam tuhan, Ada di antara mereka yang menyembah berhala, patung, malaikat, jin, bintang-bintang, api, Nabi Isa bin Maryam dan nabi-nabi lainnya, serta orang-orang shalih. Rasulullah saw tidak membeda-bedakan mereka dalam menjatuhkan vonis kafir dan memutuskan untuk memerangi mereka. Kaum sekular demikian juga, mereka memiliki banyak tuhan. Dilihat dari sesembahannya, ada di antara mereka yang menyembah Amerika, ada yang menyembah Eropa, Rusia, dan PBB. Ada pula yang menyembah teori, ada yang menyembah negara, nasionalisme, ras, dan ada yang menyembah pemimpin dan tokoh intelektual mereka. Maka mereka (antara kaum jahiliyah Quraisy dengan kaum sekular) sama dalam kekufuran dan riddah (kemurtadan).

Masalah:

Menyusul persoalan sekularisme di atas, ada kelompok-kelompok yang akhir-akhir ini muncul, menjembatani, mengikut dan menempel pada kaum sekular. Kelompok-kelompok ini secara garis besar terdiri dari dua golongan, yakni;
a- Dilihat dari aspek keimanan dan pengkafiran, kelompok ekstrimis murji’ah.
b- Dilihat dari aspek fiqih adalah kelompok pengikut hawa nafsu, permisif, tunduk pada realitas dan menggampangkan, yang ujung-ujungnya termasuk ke dalam kategori zindiq.

Penutup

Kami tambahkan di sini pendapat Syaikh Abdurrahman bin Muhammad ad-Dausiri rh. Di antara kelompok yang mula-mula menampakkan diri sebagai neo-paganisme, dan syirik kontemporer yang terlaknat adalah sekularisme. Beliau mengatakan di dalam penutup risalah Kasyfu Syubuhat, cetakan pertama tahun 1385 H, yang menjadi penutup kitab kasyfu syubuhat karya Syaikh muhammad bin Abdul Wahhab, “Dildalam kitab ini beliau telah membukakan tabir neo-paganisme, dan syirik kontemporer, sebagaimana syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menyingkap persoalan syirik di masanya.
Syaikh Abdurrahman ad-Dausiri mengatakan, “Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di dalam kitabnya Kasyfu Syubuhat telah mendiagnosa syirik khurafat dalam berbagai bentuknya, seperti berdo’a kepada mayat, makhluk ghaib dan mensucikan kuburan. Kemudian setelah itu muncul berbagai bentuk syirik dengan julukan dan nama yang membuat kaum awam tertipu, dan orang-orang yang mendendam dan berkepentingan menjadi ketergantungan pada nama itu.
Kemudian beliau mengatakan, “Sesungguhnya pemimpin besarnya adalah Yahudi dan Majusi, karena mereka khawatir akan bangkitnya Islam yang bersih dari penyimpangan yang dihasung oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan para pendukungnya.
Pada masa ini para pendukung gerakan tersebut dari kaum kita berusaha menyalakan semangat jahiliyah dengan kesombongan fanatisme nasionalisme di setiap ummat Islam. Maka nampaklah neo paganisme dan para penyembah materi dan syahwat, pengkultus individu dengan alasan ras atau nasionalisme, sehingga mencakup seluruh penjuru dunia Islam dan bangsa Arab, khususnya neo-kemurtadan dengan menjiplak prinsip-prinsip ajaran nasionalisme dan sekte materialisme yang dihiasi dengan berbagai julukan yang secara dhahir tampak sebagai bentuk kasih sayang tetapi hakekatnya adalah adzab. Setelah memberikan muqaddimah ini Syaikh Abdurrahman ad-Dausiri berbicara tentang makna uluhiyyah dan dasar-dasarnya.
Dasarnya ada dua, yaitu;

1- Mengingkari segala bentuk sesembahan
2- Mengesakan Allah dalam ibadah dan tunduk kepada hukum-Nya.

Selanjutnya beliau menjelaskan tentang hakekat ibadah, cinta karena Allah dan benci kepada musuh-musuh agama. Kemudian menjelaskan hakekat millah Ibrahim as. Dan beliau mengatakan, “Dengan itu Anda bisa mengetahui sejauh mana kebanyakan orang yang menyangka dirinya muslim itu telah tenggelam ke dalam neo-paganisme, dan seberapa kuat prinsip-prinsip Barat dengan segala sekte materialisme menghegemoni pikirannya, sehingga mereka menjadikan hukum nasional berada di atas hukum Allah. Mereka menjadikan dirinya memilih dalam hal yang mereka syariatkan dan mereka atur dengan menyelisihi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengikuti apa yang didiktekan oleh tokoh-tokoh yang mereka pertuhankan dengan kecintaan dan pengagungan, dan mereka angkat tokoh-tokoh itu sebagai tandingan-tandingan bagi Allah, seperti nasionalisme, dan segala tuntutan sekte materialisme…
Kemudian beliau menyebutkan orang yang menjadikan negara sebagai tandingan bagi Allah, dalam kata mereka; ”Negerimu berdiri di atas segala agama, karena itu berbuka dan berpuasa..Mereka mendatangkan wala’ kepada musuh Allah dengan alasan ras dan negara, dan meniadakan syari’at dengan alasan perkembangan yang rusak, dan ibadah segala sesuatu thaghut di jalan itu
Dan di antara prinsip-prinsip mereka yang bathil, adalah;
• agama itu untuk Allah dan negara untuk bersama
• agama adalah hubungan hamba dengan Tuhan saja tidak berkaitan dengan persoalan hidup di dunia
• suara rakyat adalah suara Tuhan
Beliau menyebutkan bahwasannya alumni sekolah kolonialis senantiasa menopang (yurakizu) pemahaman ini di berbagai tingkat umat Islam. Dan berkata bahwa yang pertama-tama diwajibkan oleh kolonial atas kita adalah budayanya melalui di sekolah-sekolah itu. Kemudian beliau berkata, maka kaum muslimin, baik yang tua maupun yang muda, baik pemerintah maupun rakyatnya, hendaklah meluruskan neo-syirik dan neo-paganisme tersebut.
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas nabi kita Muhammad, keluarganya, dan seluruh shahabatnya..

wallahu a’lam bish showab…